ketika saya menikah
Wed, 2 Jul 2008 | Myself | 142 views |
Hari itu Rabu, 25 Juni 2008 dan suara adzan subuh mulai terdengar, rasa ngantuk masih menyelimuti pelupuk mata apalagi udara begitu dingin membuat saya ingin meneruskan tidur. saya beranjak dan menyandarkan diri pada koko ( boneka panda yang sudah saya miliki hampir 15 tahun). Harum rangkaian bunga melati dan sedap malam menghiasi kamar, dan sekarang saya benar benar percaya, inilah saatnya saya melepaskan masa lajang saya.
Saya mulai membaca sms, banyak pesan disana, dari sahabat, kerabat, kolega dan tentu saja orang orang yang pernah istimewa dihati saya. Saya sudah cukup banyak menangis untuk cinta, tapi tidak lagi, tidak hari ini dan esok, hari ini seseorang akan datang dalam hidup saya untuk menjaga dan mencintai saya seumur hidup dengan cara yang paling mulia yaitu “penikahan”.
Selesai Mandi, ibu perias memasuki kamar, Ramah dan penuh senyum dia mulai mendandani saya dengan kebaya putih impian saya dulu, mama menyuapi saya sambil sesekali menasehati saya agar saya melewati hari ini dengan bahagia.
Waktu menunjukan pukul 09.30. Papa dan adik saya sudah menunggu saya dipintu untuk mendampingi saya ke masjid . Adik saya memakai taksido, terlihat lucu sekali.Ternyata dengan kebaya pengantin ini jalan saya sedikit tidak nyaman, tibalah saya didepan pintu rumah menuju mobil yang akan membawa saya ke masjid. Dan Oh My God didepan rumah sudah banyak yang menunggu saya dan tersenyum hangat pada saya. Saya diapit Adik , Papa dan Mama seperti cerita dalam negeri dongeng.
Saya tiba di Masjid, Dari jauh masjid sudah tampak penuh oleh semua undangan, kaki saya mulai gemetar, tenggorokan saya kering, dan bicara sayapun mulai terbata bata . Pintu mobil dibuka tante tante saya mengapit saya masuk ke masjid,semua orang tertuju melihat saya, ah ini membuat saya merinding.
Sesudah beberapa susunan acara dilaksanakan, tibalah pada acara khotbah dan akad nikah, disanalah saya dipertemukan dengan calon suami saya. Saya seperti merasakan mati rasa oleh penuhnya suasana masjid dan saya merasa begitu gugup, sampai akhirnya saya duduk berdampingan dipayungi kerudung putih untuk siap beikrar dihadapan Tuhan.
Saya mulai melirik pria disebelah saya, sungguh dia lembut dan tampan juga baik hati tentunya ,dia pun tersenyum , namanya Aditya Fajar, dialah yang akan menjadi pria pertama dan terakhir untuk menjadi suami saya ( InsyaAllah) pria yang selalu menemani hari hari saya, menerangi saya dari gulita hati, menjadi penawar sakit, yang tidak pernah melepaskan saya apapun yang terjadi , menjadi pelengkap hidup dan teman setia dalam suka duka.
Dia terus menggoda dan menenangkan saya, sampai ijab kabulpun selesai. Ahhh akhirnya saya sudah menjadi seorang Istri untuk seseorang yang saya PILIH.
Popularity: 57% [?]


Leave a Comment