Hemat = Kikir
Mon, 22 Sep 2008 | Uncategorized | 188 views |
Ada pepatah mengatakan rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya, bersih pangkal kesehatan. Saya sih setuju dengan pepatah itu. Namun disisi lain yang menjadi kebingungan saya adalah jika pepatah itu dilakukan dengan maksimal , beberapa hal menjadi terkesan rancu yakni : orang yang sangat rajin pasti disukai karena tidak pemalas, orang yang sangat bersih juga akan disukai karena tidak jorok, namun orang yang sangat hemat umumnya kurang disukai karena terkesan pelit, benarkah demikian ??
Hemat menurut saya adalah hidup yang tidak berlebihan alias tidak boros, tetapi hemat yang sangat berlebihan dengan memakai perhitungan yang sangat realistis ini akan berpotensi membuat seseorang menjadi pelit bahkan kikir. Lebih uniknya orang pelit itu tidak akan sadar bahwa dirinya pelit, justru dia akan berpikir bahwa hidup seperti inilah yang paling aman untuk menjauhi kesengsaraan.
Saya tidak bilang hemat itu berkonotasi pelit, tapi saya juga tidak yakin dengan berhemat bisa membuat seseorang menjadi kaya. Jadi alternatif saya pribadi tindakan hemat yang tepat yaitu hidup dengan tidak boros dengan memperhitungkan masa depan secara realistis, misalkan berpikir investasi ( kesehatan, keluarga, pendidikan) atau tindakan sederhana adalah menabung .
Nah Hemat yang cenderung kikir biasanya disertai sikap paranoid ” takut sengsara” . Orang pelit akan berpikir jutaan kali untuk mengeluarkan biaya termasuk untuk kepentingan dirinya. Jika untuk dirinya saja dia sudah sangat membatasi apalagi bagi orang lain. Jangankan mau berbagi membantupun akan sulit dilakukannya. Biasanya hitungan orang pelit sangat matematis yaitu 10-5=5 lalu untuk menjadi 10 lagi adalah 5+5. Sedangkan “Hitungan Dan Balasan Tuhan atas segala amal baik seseorang” tidak bisa dihitung dengan matematika. Dia bisa melimpahkan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin bagi seseorang, katakanlah seserang mengeluarkan uang sosial 10ribu, besoknya dia mendapat gratis makan siang sebesar 25 ribu, atau mungkin saja dapat undian “durian runtuh” dari BCA. Jadi satu yang diyakini bahwa apapun tindakan manusia pastilah mendapat balasan baik dan buruknya.
Karenanya saya merasa kasihan pada mereka yang kaya tapi pelit, menimbun banyak hartanya tanpa mau berbagi dan membantu orang lain, justru ingin hartanya menumpuk. Padahal semua itu tidak akan dibawa mati bukan? Harta itu menjadi tidak berguna karena tidak pernah menyentuh sebuah amalan. Dan saya lebih sebal lagi jika sudah miskin juga pelit, Betapa tidak indahnya manusia itu sebagai makhluk Tuhan. Mudah mudahan aja saya kelak jadi orang kaya yang tidak pelit, karena sekarang ini masih miskin. InsyaAllah kelak saya akan memakai harta saya untuk rajin berbagi karena itu juga amalan bagi masa depan saya di Akhirat. Amin
Popularity: 36% [?]


9 Oct 2008, 8:50 pm
Hmmm…di paragraf terakhir ada doa..mudah2an terkabul..amien…
tapi kok ngakunya masih miskin ya? bersyukur donk harusnya, bisa pk domain yang gak gratisan..
You can also read aanx’s blog post: Met Lebaran 1429 Hijriah